“Terima belas suah menyidik timbangan ego”: dekat pusat pagebluk, Redshirts bersekutu plus penentangan yg dipimpin teruna Thailand

Pada 16 Agustus 2020, sekeliling 200 penghuni berhimpun dekat Kuil Pilar Kota Ubon Ratchathani bakal mengangkat penentangan korpus anti-pemerintah yg dipimpin teruna dekat Bangkok yg berujud bakal menunggingkan ketua junta yg selaku prima gajah Prayuth Chan-o -cha. Sebuah kain rentang didirikan plus mengedepankan nukilan perdua pengunjuk rasa yg mengutarakan klaim lagi menduga frustrasi mereka. Pesan berpusar mulai rintihan atas kurangnya kelonggaran berekspresi dekat Thailand tenggat eulogi bakal republikanisme. Sebuah kedudukan didirikan bakal menghimpunkan lambang lengan bakal mengangkat permohonan bakal konstitusi hangat. Tetapi perhatian terbaik ialah syarah ketatanegaraan. Dalam grup juru bicara ialah rakyat dalam negeri Ubon lanjut umur lagi kecil, pensiunan lagi peneroka, berkecukupan lagi daif.

Di celah perdua juru bicara ini ialah wajah-wajah kental mendalam Ubon Ratchathani yg suah terpalit lubuk aktivisme ketatanegaraan per 2009. Sudah sepuluh tarikh per penghapusan ketentaraan yg buta hati kepada kiprah Baju Merah merenggut spirit teman-teman mereka lagi meruntuhkan mumbung serikat mulai mereka yg terbunuh lagi dipenjara. Sudah heksa tarikh per pengambilalihan kekuasaan yg memudahkan penyiksaan yg menindas untuk aplikasi ketatanegaraan mereka. Sudah esa tarikh per partai-partai pro-demokrasi yg mereka panggul, terbabit Pheu Thai lagi Move Forward (sebelumnya Future Forward), dicabut mulai intensitas ketatanegaraan mereka yg masuk akal semenggah mereka dapatkan selangkan muncul polos lubuk penentuan kasar 2019. The Redshirts ketika ini tinggal membereskan mumbung bengkak hati.

Protes serupa berlaku kepada pagebluk yg dieksploitasi sama penguasa Prayuth demi pusa bakal memperluas kekuasaannya lagi mendera pengorganisasian ketatanegaraan. Para eks Tentara Merah lantas berhimpun bakal mengangkat penentangan anti-pemerintah ialah gambaran mulai intensitas rintihan lagi kerinduan mereka hendak kesamarataan. Dalam elemen ini, gua mendalami penentangan dekat City Pillar Shrine bakal menampakkan daya tahan perdua Redshirts kepada segenap halangan lagi kesertaan mereka lubuk penentangan yg dipimpin teruna tarikh 2020 dekat Thailand yg menempuh batas-batas historis roman ketatanegaraan lubuk mumbung keadaan. Terlepas mulai pagebluk, mumbung pengunjuk menduga mulai kiprah Baju Merah suah mendapatkan detik hangat lubuk denyut ketatanegaraan mereka. Provinsi asing dekat Isan serupa suah menyidik gendongan bakal kiprah yg dipimpin teruna sama Redshirts yg stabil enggak mengabdikan personalitas mereka — mereka lantas menggunakan busana sirah pretensius lagi selaku tergelohok menggotong organ Kaos Merah mereka sonder kuatir distigmatisasi. Bahkan mereka yg sebelumnya dipenjara suah bersekutu plus berbilang dinamika muncul menduga yg gua amati.

Politik dekat pusat pagebluk

Ubon Ratchathani berkelanjutan selaku padang ketatanegaraan yg mendesak polos bakal ketatanegaraan jalanan maupun elektoral. Perlawanan dekat daerah tertulis suah melalui penyiksaan bobot selaku historis lagi, belum lama, usaha penguasa bakal membebaskan aplikasi ketatanegaraan dekat pusat pagebluk.

Seperti simpel, terpendam mumbung penjaga keamanan polos berpakaian privat maupun berseragam. Agen-agen Komando Operasi Keamanan Internal (ISOC) yg diarahkan sama ketentaraan bergaul plus perdua pengunjuk menduga, menyuakakan ain lagi kuping stabil was-was. Kehadiran kesentosaan yg bobot ialah kualitas spesifik daerah Northeastern (Isan) dekat mana bangunan rumah metropolis dibakar atas tarikh 2010 lagi 21 pengunjuk menduga Redshirt anti-pemerintah dipenjara demi balasannya. Seorang pengunjuk menduga mulai daerah itu serupa terbabit dekat celah mereka yg mati lubuk kegiatan kaku ketentaraan Mei 2010 yg memadamkan. Seorang lainnya padam sendiri selepas mendapat anjuran mulai penggubah pengambilalihan kekuasaan 2014.

Terlepas mulai cerita ini, paling kurang 20 peragaan anti-pemerintah diadakan atas tarikh 2020, tambahan pula dekat pusat langkah-langkah COVID-19 yg sempit yg mencegah sidang orang banyak. Pada 13 Januari 2020, sisi berwajib Thailand menyebarkan skandal mula-mula COVID-19 dekat Thailand selepas seseorang yg sampai mulai Wuhan, China dinyatakan konklusif. Berita itu hingga saja sehari selepas aksi anti-pemerintah massal berlantas dekat berbagai rupa vak Thailand plus topik tertulis Wing Lai Lung (Jalankan bakal Mengusir Paman). “Paman” itu tidak asing ialah Prayuth yg suah meninggali jabatannya per pengambilalihan kekuasaan ketentaraan 2014. Seperti yg suah gua komentari dekat ajang asing, hibrida lari-kesenangan / penentangan menerima gendongan perkasa mulai berbagai rupa kondisi kemasyarakatan perdagangan terbabit tingkatan yg bertambah hangat. Laporan maklumat atas aksi ini selaku maklumat terbaik dekat wahana pancuran terbaik.

Tapi keriuhan ketatanegaraan semacam itu gaek senteng waktu pagebluk yg menggentarkan kesimpulannya menabur ke benua itu. Media plus bangat mengganti fokusnya ke maklumat tercantel COVID-19. Selama sayup sebulan, berita maklumat atas kesulitan kedok raut, pembasuh lengan, lagi penyuci hama merajai. Dengan semakin banyaknya skandal yg dilaporkan, wahana kemasyarakatan berganti selaku ajang pencarian penyihir kepada mereka yg dicurigai terkena. Ekspresi frustrasi ketatanegaraan ditinggalkan dekat kondisi.

Periode pendatang simpel berlaku selepas Mahkamah Konstitusi memulangkan Partai Maju Masa Depan yg lagi terangkat patera atas 21 Februari 2020 plus pusa mewahamkan mendapat utang mulai ketua partainya Thanathorn Juangroongruangkit. Tiba-tiba, penentangan tegang yg dipimpin sama perdua mahasiswa timbul dekat berbagai rupa daerah. Bahwa histeria COVID-19 enggak bisa menekan keinginan perdua pengunjuk menduga bakal turun ke jalur ialah nas bagaimana pun dalamnya rintihan mereka.

Namun, kegiatan asas yg diklaim penguasa diperlukan bakal membebaskan diseminasi kelainan, terbabit Keputusan Darurat yg mematahkan sidang orang banyak, positif lubuk meneduhkan perkelahian ketatanegaraan sepanjang berbilang kamar. Malam sepi; hari-hari menggelinding sukar. Pedagang penahan lima sedikit lagi sedikit dekat Ubon Ratchathani yg gua menghasut komentar atas kamar April memprotes bahwa mereka sayup enggak sanggup bersitegang. Bahkan toko-toko dekat utama perbelanjaan Central yg terkemuka pula kap. Mungkin hal perdagangan semacam itulah yg menekan penguasa bakal selaku beruntun merampingkan kegiatan kerasnya.

Menjelang final Juni, sidang orang banyak diperbolehkan. Kegiatan ketatanegaraan dilanjutkan plus bangat, menampakkan bahwa sepanjang ini frustrasi ketatanegaraan enggak sudah seput tapi berat mengharap durasi bakal mencuat pula.

Dari baju sirah tenggat pengunjuk menduga teruna: mengoper gayung berantai

Berusia lagi menua, pengunjuk menduga Redshirt berpengetahuan pula mengikuti lubuk serangkaian penentangan jalanan kuno yg dimulai atas medio 2020 lagi berbuntut tenggat final tarikh. Kali ini mereka merampingkan karakter mereka selaku penganut penentangan, yg dipimpin sama perdua ketua teruna mulai berbagai rupa lingkaran ketatanegaraan yg bahadur mengucapkan klaim yg belum sudah berlaku sebelumnya bakal mereformasi despotisme berbenturan plus pekik bakal pula ke kerakyatan. Para redshirts bersekutu lubuk penentangan ini untuk tujuan mereka singular demi person plus keinginan bakal menyambung perlawanan kerakyatan selangkan kurangnya kepemimpinan mulai institut tema terbaik mereka, Front Persatuan bakal Demokrasi Melawan Kediktatoran (UDD).

Saat diundang bakal mengasihkan syarah dekat penentangan City Pillar Shrine, plus cecair ain berlinang lagi menyapa dirinya demi khun ta [grandfather], seorang Redshirt berumur final 60-an, bercerita, “Hari ini khun ta berat tenteram. Jika kau luk lan [children and grandchildren] merasakan jasad waktu menyidik hal-hal yg berlaku dekat benua kita, apabila Anda merasakan jasad waktu mengindahkan tetapan skandal Redbull lagi gemar menggeratkan persneling plus kemurkaan, begitulah perasaan The Redshirts. Jika Anda menyidik skandal penyerangan alas seluas 1700 rai yg beres sonder penawanan sapa pula lagi setelah itu menggeligis gara-gara bergelora, itulah yg ego rasakan … “

Dalam syarah ini, sebuah simpul diciptakan yg menjembatani jilid hangat penentangan jalanan lagi dinamika Redshirts mulai tarikh terus. Penggunaan terma komunitas sama juru bicara khun ta melambangkan rangkaian hangat yg pesam celah beliau, Redshirt yg tersisih bertambah lanjut umur, lagi pengunjuk menduga kecil yg tingkatan bertambah kecil. Rujukannya ke kasus-kasus asas susun semampai menggarisbawahi rintihan terbaik Redshirts — kurangnya kesamarataan — sementara menyandingkan Redshirts lagi lingkaran teruna lubuk situasi perlawanan yg sepadan, menerangi hati beriringan mereka. Detak dalaman spesifik The Redshirts bergemerincing dekat kondisi ketika sira menyambung pidatonya sepanjang 15 menit yg mengutip atensi pirsawan.

Menjelang final pidatonya, sira memaklumkan, “Faktanya, selaku Redshirt ialah jasad yg kita angkat dekat lubuk jantung kita. Kami dendam berahi paritas, dendam berahi kerakyatanesa pas, esa bunyi. Tolong perlakukan ego sepadan semacam sekotah penghuni Thailand. Perlakukan ego sepadan semacam penghuni asing… Jadi, izinkan gua bersoal akan Anda luk lan, sokong tiada [sobbing] biarkan perlawanan Tentara Merah selaku gagal. Mohon tumbuh lubuk total agam. Atas panggilan Redshirts — segenap dekat mana pula mereka berpunya — gua akseptabel belas akan ego luk lan bakal menyidik timbangan kita. Kami panggak menerima penghargaan atas lekat kasar dekat Universitas Chulalongkorn. Mereka memodali ego rekognisi dekat senun. Kami menilai hakikat bahwa perlawanan ego enggak gagal. Mari kita tinggalkan abad hadapan Thailand dekat lubuk dirimu — eigendom kita luk lan lengan. Kami demi penghuni yg suah bergelut sebelumnya hendak timbul dekat WC Anda. ” Di sini, plus akseptabel belas akan perdua teruna lagi mempercayai abad hadapan benua beriringan mereka, juru bicara Redshirt memaklumkan bahwa kepemimpinan kiprah kerakyatan ialah eigendom tingkatan yg bertambah kecil lagi memberikan karakter Redshirts akan penganut.

Apakah abad “Merah versus Kuning” telah beres dekat Thailand?

Benarkah abad “Merah vs. Kuning” dekat Thailand telah beres?

Pada lekat kasar dekat Universitas Chulalongkorn dekat Bangkok duet yaum sebelumnya, seorang juru bicara mahasiswa suah mengimlakan syarah ketua Baju Merah Nattawut Saikua lagi menunjuk atas perlawanan Tentara Merah, terbabit plus bertutur atas mereka yg stabil dekat kerangkeng. Mengingat bagaimana pun Redshirts diremehkan lagi diejek demi partisan loyal eks prima gajah Thaksin Shinawatra, yaum ini belum sudah berlaku sebelumnya bahwa perlawanan ketatanegaraan mereka diakui plus polos sama teruna demi kiprah kerakyatan. Partisipasi Redshirts lubuk penentangan tarikh 2020 suah menampakkan sekaligus tengah bahwa orang-orang simpel tinggal sanggup melanjutkannya selangkan mereka berat kesulitan aktiva ketatanegaraan vis-a-vis lawan-lawan anti-demokrasi yg didukung sama sisi permanen. The Redshirts suah menyeberangi petualangan tinggi, tapi petualangan mereka belum beres.

2020 yg dilanda COVID enggak bisa membebaskan penghuni bakal mengadakan penentangan. Namun, gertakan yg bertambah perkasa kepada kiprah pro-demokrasi suah mencuat lubuk berbilang kamar mula-mula tarikh 2021. Beberapa ketua penentangan suah didakwa lagi ditahan sonder cengkeram. Penggemar ketatanegaraan suah dialihkan mulai ketatanegaraan jalanan sama penentuan dalam negeri, daerah. Belum tengah tanda-tanda pergesekan dekat celah perdua ketua penentangan. Dengan serupa itu mumbung tantangan ke hadapan, hendak mengutip bakal menyidik apakah Redshirts menyambung gendongan mereka kepada kiprah kerakyatan yg dipimpin teruna, lagi macam mana perdua elit hendak bereaksi apabila penentangan massal berskala agam pula berlaku.