Roundup Asian Scientist Magazine Juni 2021

AsianScientist (2 Juli 2021) – Antara mencium rumpun bani Adam anyar yg dapat selalu bersua sama karuhun kita, mengungkap warak danawa arkais, pula melebarkan sistem anyar bagi memakai tanda WiFi plus—yg sumurung pula tercerdas dalam Asia langsung menempa pertumbuhan bermakna yg menyongsong pengenalan kita perkara kosmos serupa yg kita ketahui kawula t.

Bulan ini, jelajahi lerong tenggat babad perkembangan bagi mengetahui ras terpisah, cocok dinosaurus anyar, pula mengungkai ingat bilamana pula macam mana warak danawa melalui Asia; lantas tumbuh lekas ke saat masa ini bagi memafhumi macam mana tes alterasi kerangka berbasis statistik pula pemberantasan kelainan serupa dedar berbakat boleh menyantuni menyelamatkan saat pendahuluan yg bertambah sensitif.

Untuk memafhumi invensi keilmuan terbaru sejak Asia, beserta sama dengan kira-kira pancaran aku sejak Juni 2021.

  • Penemuan Manusia Naga Menulis Ulang Sejarah Evolusi

    Pada 1930-an, seorang pegawai mencium kranium luar biasa zaman mengasaskan jembatan dalam Harbin, Cina. Untuk menanggulangi hadiahnya, doski membungkusnya pula menyembunyikannya dalam sumber yg ditinggalkan sepanjang 90 tarikh sebelum menyampaikan senyap-senyap itu akan cucu-cucunya dalam ranjang kematiannya.

    Hebatnya, kranium itu properti rumpun bani Adam anyar yg dijuluki ‘Manusia Naga’, alias Homo longi—rumpun yg peluang bertambah menjelang kekerabatannya sama bani Adam trendi ketimbang Neanderthal. Menurut penyelidik sejak China, fosil tercatat berusul sejak paling kurang 145.000 tarikh yg silam, yg bermakna bahwa H. longi boleh cocok sama karuhun H. sapiens kita pula merias perkembangan kita sama tingkah laku yg belum kita temukan.

  • Mengungkap Kebenaran Tentang Hewan Purba

    Sebelumnya ditemukan dalam Amerika Selatan, Afrika pula Eropa, perdua penyelidik sejak Rusia pula AS suah mencium rumpun dinosaurus anyar berleher tinggi pula berpunggung tinggi yg disebut Raja Dzaratitania yg peluang raya bercokol dalam Asia. Ditemukan dalam Uzbekistan, D. tuan menyimpan akhir yg bersalah yg enggak menyimpan punggungan ke kaidah tampuk punggung pula rubrik cuaca ala sayap yg disebut lengkungan saraf.

    Di ajang beda, perdua sarjana suah mencium sisa-sisa rumpun warak danawa arkais yg berkeliaran dalam barat samudra China 26,5 juta tarikh yg silam. Badak arkais ini, yg dikenal demi paraceratheres, tingginya bertambah sejak tujuh meter, beratnya catur lungkang lepit sejak menteri Afrika pula peluang mewujudkan khilaf homo- binatang menyusui bumi terbesar yg sudah kehidupan. Bersama-sama, penemuan-penemuan ini memasok kita pantauan sesaat perkara kesibukan makhluk-makhluk yg menjelajah dalam Bumi beribu-ribu tarikh sebelum kita.

  • Bagaimana Wolbachia Menghentikan Demam Berdarah dalam Jejaknya

    Ilmuwan sejak Indonesia suah mencium bahwa menginfeksi Aedes aegypti nyamuk malaria sama mikroba barikade virus yg disebut Wolbachia boleh menanggulangi mereka—pula kita—sejak dedar berbakat. Sebagai virus, dedar berbakat enggak boleh bertambah individual pula membutuhkan pengangkut serupa carrier A. aegypti bagi menebar.

    Dengan menerbitkan nyamuk malaria ini sama Wolbachia tetapi, virus dengue enggak menyimpan rubrik bagi menginfeksi pula menebar. Karena Wolbachia menebar sama sepele ke segenap warga nyamuk malaria, serangga tempatan mesti umum sejak dedar berbakat lubuk pinggan perkiraan candra.

    Para penyelidik mengkonfirmasi presumsi mereka sama menyimpan kantong sejak Wolbachia-Membawa ovum nyamuk malaria dalam daerah-daerah kategoris dalam Yogyakarta. Selama tujuh candra, kisah dedar berbakat dalam keramaian yg dirawat turun 77 upah, sama pelihara mengendong tergantung dedar berbakat turun sebagai memeranjatkan 86 upah.

  • Data Mendorong Penelitian Perubahan Iklim

    Karena alterasi kerangka langsung berakhir ala ihwal perladangan dalam Asia pula merisaukan suplai santapan prinsipil serupa gabah, perdua penyelidik berpacu bagi melebarkan breed yg bertambah teguh rentang waktu. Untuk mendatangi ini, regu antarbangsa mengupas 672 genom gabah tempatan sejak Vietnam. Dalam prosesnya, mereka mencium ragam yg dikenal demi I5 Indica yg boleh digunakan bagi merancang tingkatan anyar gabah yg membutuhkan bertambah secolek mata air kompetensi pula menganjurkan rahim nutrisi yg ditingkatkan.

    Sementara itu, dalam Kamboja, perdua penyelidik suah mengkonfirmasi bahwa telaah alterasi kerangka yg mencangkung mesti mencaplok tindak-tanduk bani Adam. Setelah menghimpunkan statistik perkara griya eskalator nelayan dalam Kamboja sepanjang tiga tarikh, mereka mencium bahwa keturunan Adam bertambah serau menghasut sepanjang tahun kalor, walakin susun mangsa konsisten sebanding.

    Tanpa mengingat tindak-tanduk nelayan, sepele bagi berasumsi bahwa hawa enggak berakhir ala mangsa iwak—ala kenyataannya, ekosistem bertambah subur ala musim yg bertambah sopan. Wawasan serupa itu jadi bagi menyurihkan mainan lubuk pinggan kejadian telaah pula tes alterasi kerangka.

  • Mengisi Daya Elektronik Kecil Dengan WiFi

    WiFi sama dengan sayap prinsipil sejak kesibukan kita sehari-hari, walakin apa pun yg berjalan ala tanda plus zaman enggak digunakan? Untuk mengintensifkan WiFi aku, penyelidik sejak Singapura pula Jepang suah melebarkan sistem bagi memakai sisa tanda pula mengubahnya sebagai daya yg boleh digunakan bagi memasok kompetensi ala gawai setrum mungil.

    Metode regu terserah ala gawai mungil yg disebut osilator spin-torsi, yg mengejawantahkan pula mendapatkan bena mikro. Dengan merangkap delapan osilator sebagai cahaya, mereka menyurihkan tanda WiFi 2,4 GHz sebagai tarikan refleks yg kuat memadatkan kapasitor. Bahkan selepas WiFi dimatikan, kapasitor boleh mengoperasikan LED 1,6 volt sepanjang takah-takahnya homo- menit. Pada sudahnya, regu bercita-cita sistem mereka boleh menempatkan alur sungai bagi strata budiman otonom.

  • Hak Cipta: Majalah Asian Scientist; Ilustrasi: Alexandra Valino/Ilmuwan Asia.
    Penafian: Artikel ini enggak merefleksikan pantauan AsianScientist alias stafnya.