Perpecahan dalam lombong sangha: sambutan yg terpaut berkenaan pengambilalihan kekuasaan Myanmar

Parmaukkha, seorang pendeta Burma yg prominen via gerak-gerik ultra-nasionalisnya, berkomentar bahwa populasi Burma “yg angsal merenungkan tenggak pendahuluan enggak bakal mengeluh pancuran [junta] penguasa”. Dia menyetujui pernyataannya via presumsi bahwa Aung San Suu Kyi yg dipimpin Liga Nasional buat Demokrasi (NLD) melukiskan intimidasi kuat pecah religi Buddha bersama kedaerahan Bamar. Reaksi dalam tenggang sangha Buddha (mazhab bruderan Buddha) dalam Myanmar berkenaan pengambilalihan kekuasaan Februari, bagaimanapun, tersendiri semenjak sejenis.

Kepala bruderan Mingyi dalam Mandalay, Myawaddy Sayadaw, ditahan belaka segenap musim selepas pengambilalihan kekuasaan 1st Februari. Dia merupakan melenceng mono- pengkritik menyesatkan seru berkenaan junta tentara bersama lombong segenap kamar dari penangkapannya, segenap bruderan parak suah digerebek via junta yg memberlakukan paruh pendeta yg mengetuai penentangan anti-kudeta. Biksu parak yg ditangkap terliput Thaw Pa Ka. Menariknya, hangat Thaw bersama Myawaddy turut serta lombong Revolusi Saffron 2007, saat paruh pendeta turun ke rel berdedai-dedai bersama mengetuai penentangan buat melaporkan ketidaksetujuan berkenaan pencopotan bantuan target menambus, sebuah krida yg mengundang penambahan taksiran rezeki bersama hajat sehari-hari. . Meskipun aksi penentangan membelit kategori parak penaka purnawirawan Generasi 88, paruh pendeta selaku mimik penentangan saat mereka memutar arah cangkir, membuktikan bahwa mereka menolak amal semenjak junta tentara bersama gara-gara itu menggalaukan legalitas ketatanegaraan bersama moralnya.

Hubungan tenggang pendeta bersama tentara bagaimanapun, suah beralih selaku berarti dari Revolusi Saffron. Sejumlah kuat pendeta yg turut serta lombong Revolusi Saffron suah dipenjara maupun dikirim ke penyendirian, via sangha lombong perihal yg tersendiri makin ruai buat menjalankan kisaran penentangan anti-militer. Nasionalisme Buddhis suah menghuni bekas yg makin jantung dalam sangha ketimbang yg berjalan mono- sepuluh tahun lewat, gara-gara intimidasi yg dirasakan semenjak Islam dalam Rakhine bersama paksa parak Myanmar.

Untuk keperluan arah pencaharian
Secara historis, religi Buddha dalam Myanmar suah terikat via teks atas rezim bersama legalitas. Di periode pra-kolonial, despotisme Burma ada pertautan yg sama-sama berjuntai via sangha. Sangha bakal memberikan legalitas iktibar akan Raja, demi gantinya sangha menjalankan demi pengayom bersama perawat tasdik Buddha. Jika Raja dianggap kandas tumplak tugasnya, sangha bakal berjeda menetralkan legalitas iktibar bersama ketatanegaraan. Meskipun despotisme dihilangkan sepanjang rezim kolonial, latar belakang legalitas sepotong kuat malar komplet. Sangha lantas memalarkan pemerintahan yg dominan — terlucut semenjak apakah itu dipilih maupun enggak — buat mengusahakan pengakuan Buddha. Karena sangha kelenyapan pelindungnya via pengungkapan despotisme Burma sepanjang rezim kolonial Inggris, paruh pendeta selaku berjuntai ala penghuni Bamar lugu yg sepotong kuat menganut Buddha buat derma bersama amal kuil. Akibatnya, paruh bhikkhu selaku berjuntai ala kesentosaan publik bersama makin tersendiri tambah, letak mereka demi ketua kejiwaan menjalankan mereka maha- terbawa-bawa bersama ingat via kesulitan penganut Buddha bersama Bamar lugu. Beberapa pendeta pun berlaku demi ketua publik gara-gara mereka memimpin institusi yg meluluskan perbuatan baik bersama kewajiban kemasyarakatan buat anak buah paguyuban yg bergelut, yg menuju ala kesertaan mereka lombong aksi penentangan kemasyarakatan sepanjang bertahun-tahun.

Bangkitnya semangat kebangsaan Buddha

Dalam sepuluh tahun belakang, pertautan yg makin stabil tenggang institusi ultranasionalis Buddhis khusus bersama tentara suah bertunas, gara-gara kedua kategori terkandung siaga berkenaan “intimidasi Islam” yg dirasakan. Beberapa kategori ultra-nasionalis yg dipimpin sama paruh pendeta suah terjalin lombong sepuluh tahun belakang. Memanfaatkan kegawatan yg menyusun tenggang Muslim Rohingya bersama Buddha dalam Rakhine, kelompok-kelompok ini menyetujui gerak-gerik ketatanegaraan beset padat mereka berkenaan sebagian besar bersama eksklusivitas via argumen menjamin bersama mengabadikan sāsana Buddha semenjak intimidasi eksternal. Pada gilirannya, kelompok-kelompok ini selaku gamblang memanggul tentara, yg menyambut krida kekejaman berkenaan Rohingya.

Ancaman paruh pendeta revolusioner Myanmar

Ma Ba Tha angsal mengalahkan peralihan ketatanegaraan desa, catat Oren Samet.


Salah mono- kategori menyesatkan menjendul, MaBaTha (Asosiasi buat Perlindungan Ras bersama Agama) mengompas paruh pendukungnya buat menugasi Partai Persatuan Solidaritas bersama Pembangunan (USDP) yg didukung tentara ala Pemilihan Umum 2015. Dan ala tarikh 2017, Sitagu Sayadaw, melenceng mono- pendeta Myanmar yg menyesatkan dihormati, menukil semenjak “The Victory of Dutthagamani” sepanjang syarah buat opsir tentara via bekas yg menyiratkan bahwa pembantaian massal non-Buddha legal. Ashin Wirathu, seorang ketua gerendel lombong MaBaTha — yg dituduh menghasut saat Liga Nasional buat Demokrasi (NLD) dominan — mengompas paruh pendukungnya buat “meluluskan keadaan yg mustakim” lombong Pemilu 2020, yg kementakan kuat dianggap mengompas pengikutnya buat menugasi NLD. Berbeda via USDP, NLD dianggap sama sepotong pendeta chauvinis demi sisi yg enggak bakal mementingkan tameng religi Buddha bersama kesuciannya dalam desa paksa.

Perkembangan parak dari revolusi 2007 merupakan pertautan tenggang tentara bersama kategori ultra-nasionalis semakin stabil bersama terbelangah. Menggambarkan dirinya demi perawat berlaku religi Buddha lombong segenap tarikh belakang, tentara suah menghibahkan amal via karim ke bruderan bersama institusi Buddha, terliput kategori yg anggotanya dituduh meluluskan penghasutan. Ketika Jenderal That Pon meraup cacatan gara-gara mendermakan USD $ 20.000 akan Buddha Dhamma Prahita Foundation (penghubung MaBaTha), dirinya mendidik sendiri via menyatakan bahwa dirinya belaka menyimpang akan paruh pendeta buat perbuatan baik, menyiratkan bahwa dirinya berlaku cocok via keperluan religi Buddha. Tindakan seroman itu melukiskan gendongan curi-curi tentara buat paruh pendeta ekstrem ini bersama pertautan simbiosis mereka.

Kesulitan jangka kala ini

Tuntutan yg beriring-iring buat menyejahterakan arah pencaharian populasi Burma via memutuskan kekejaman, namun pun buat membela tasdik Buddha berkenaan intimidasi Islam yg dirasakan via memanggul tentara, menuju ala skrip sambutan yg terpaut dalam lombong sangha jangka kala ini. Dalam pengambilalihan kekuasaan belum lama, perceraian dalam lombong sangha kelihatan makin kentara semenjak sebelumnya. Pada 17 Maret, Komite Sangha Maha Nayaka (MaHaNa) menghunus maklumat yg melaknat kekejaman tentara sepanjang penentangan, menunjukkan keretakan tenggang tentara bersama jasmani yg ditunjuk penguasa buat menyelia sangha. Di segi parak, paruh pendeta penolong tentara dilaporkan memakai ketapel buat mencederai pengunjuk meninjau anti-kudeta ala 10 Maret. Secara swasembada, paruh pendeta dalam semua Myanmar pun suah mengutip krida buat mengurusi bersama mencegah pertumpahan keturunan via berkumpul lombong penentangan bersama menghadirkan pujian Tuhan.

Dengan penghargaan tentara bahwa kurangnya gendongan semenjak paruh pendeta angsal mewariskan iktibar mereka, perintah anti-kudeta yg makin solid semenjak paruh pendeta Burma tengah berpotensi melemahkan legalitas junta tentara.