Menulis Ulang Kisah (Di Bawah) Evolusi Burung Cepat

AsianScientist (6 September 2021) – Terselip pada kaki pucuk-pucuk pokok kayu pada rimba Indonesia, burung-burung tahir yg disebut pengicau Sulawesi suah berdiversifikasi sambil paling sput walaki penampilannya selaku. Temuan itu dipublikasikan pada Zoologischer Anzeiger—Jurnal Zoologi Perbandingan.

Beragam tipe suah merapat lalu lari tinggi kisah bintang siarah ini, sambil tipe pertama yg memengkol pada baret turunan yg visibel, seringkali sambil sifat yg menjelma selaku memerangahkan. Ambil hal kukila mencapit Galapagos yg tersohor, yg diamati Charles Darwin mendapatkan memanifestasikan filosofi evolusinya.

Dengan paham lalu barometer cetok yg berlawanan, burung-burung tercantum beradaptasi sambil berjenis-jenis macam sasaran yg tersuguh pada pulau-pulau tersaku yg mereka menempati. Spesiasi bak itu terlaksana selagi jutaan tarikh, didorong sama berjenis-jenis jagat lalu antara geografis yg mencegah kukila finch pada beristri palang.

Skala jangka perubahan yg melenceng ini acap selaku kejadian yg kering, lamun orang-orang Sulawesi yg meleter ataupun Pellorneum celebense ternyata selaku dispensasi. Bersama sambil rekan universal, perdua jauhari pada Universitas Halu Oleo pada Indonesia mendeteksi bahwa burung-burung suah berdiversifikasi saja tinggi kira-kira mili tarikh.

Kecil, pisik lalu berbulu coklat, subspesies pengomel Sulawesi yg menghuni lima daratan tersaku pada Indonesia suram dibedakan. Namun, DNA lalu dendang burung-burung itu menjelma tersisih bertambah sput pada yg diperkirakan berkat antara mereka yg pendek.

Dengan memeriksa gen mitokondria kicauan Sulawesi sambil tipe kukila yg bertambah tersisih, perdua peneroka mendeteksi kontras tujuh komisi, yg menyempal pada jutaan tarikh perubahan. Namun, saja tinggi 12.000 tarikh, subspesies pada lima daratan suah membentangkan sekeliling sepertiga pada modifikasi genetik yg tertulis atas kaum tersisih.

Tampaknya kagak rupa-rupanya bahwa perdua pengomel Sulawesi bakal memengkol sedemikian itu sput. Bagaimanapun, pulau-pulau itu dempet esa setaraf beda, saja dipisahkan sama bahar ceper. Jika mereka solak, burung-burung beroleh sambil lasuh membubung lalu memintasi antara yg singkat itu, sambil pulau-pulau yg lebih-lebih dihubungkan sama jembatan bumi tinggi 20.000 tarikh termuda.

Namun variasi itu prospek asik kagak didorong sama antara geografis lalu bertambah berkat mode sama yg terkucil selaku bersahaja pada perdua pengomel Sulawesi yg celingus. Karena mereka bercokol pada kaki, ataupun tumpukan pohon-pohon renik lalu semak-semak timbul pada untuk lunas rimba, burung-burung itu sedikit menjurus mendapatkan berjalan, bertambah memutuskan mendapatkan memisah-misahkan dahar lalu mengendap pada jurang dedaunan.

Selain menerangi perubahan yg sput, hasilnya serupa membubut ketertarikan atas hotspot heterogenitas hayati yg rawan, terliput Sulawesi. Beberapa daratan ada batuan spesial yg padat sambil nikel, yg beroleh meresap ke tinggi pulau lalu mengharuskan kukila mendapatkan beradaptasi bak yg dilakukan kutilang Darwin. Tetapi kontingen mengopi bahwa barang tambang ini beroleh membubut bedel penambangan, berpotensi mengerikan rompok tipe ini.

“Ada keinginan mendorong mendapatkan meninjau distrik mana yg menyimpangkan esensial tinggi memanifestasikan heterogenitas hayati ini meniti spesiasi,” catat perdua prosais. “Waktu nyaris tamam mendapatkan memproduksi kisah jangkap berhubungan heterogenitas hayati pulau-pulau ini lalu semangat evolusionernya.”

Artikel tercantum beroleh ditemukan pada: Marcaigh et al. (2021) Evolusi pada Tumbuhan Bawah: Sulawesi Babbler Pellorneum celebense (Passeriformes: Pellorneidae) Telah Divergen Dengan Cepat pada Pulau Jembatan Darat pada Titik Panas Keanekaragaman Hayati Wallacean.

———

Sumber: Trinity College Dublin; Foto: Shutterstock.
Penafian: Artikel ini kagak menggambarkan wawasan AsianScientist ataupun stafnya.