Mendongeng, sabotase maka insinuasi dalam Pulau 1001 Tita Salina

Dua warsa lewat, Galeri Nasional Australia Dunia Kontemporer: Indonesia ekshibisi dibuka mendapatkan global. Di pangsa ketiga pangsa galeri terbentuk arca yg terdiri semenjak unik ton plastik; dibungkus sondong iwak mendapatkan melangsungkan daratan, maka didukung sama tong patra maka ranggung. Di lembah bukit kirana lampu busur yg terpuji, slof kembang gula Indonesia maka slof keripik dengan ayan minuman enteng bersinau-sinau; berma perjaka berumur, biru pastel, polos, maka slof bernuansa logam adi bersinau-sinau dalam lembah bukit kirana. Ada perasaan embuh mafhum maka tergemap yg singgah plus mendeteksi kotor dalam pangsa galeri yg difumigasi maka disanitasi; sebuah intrusi indah ambang yg mengumpulkan out-of-place maka menakutkan selaku keserasian yg eksentrik (tapi permai).

Artis, Tita Salina, wujud dalam tepi daratan plastiknya dalam belakang rekan permulaan Contemporary Worlds: Indonesia. Gambar eigendom Galeri Nasional Australia, Canberra

Karya kecakapan yg dimaksud berjudul 1001st Pulau: Pulau Paling Berkelanjutan dalam Nusantara (2015), sama artis sebab Jakarta, Tita Salina. Masalah kotor plastik sama dengan poin eminen yg selaku kepedulian paham operasi artis, dengan paham penjelmaan kecakapan yg diproduksi sama—maka plus—sekutu konstan artis, Irwan Ahmett. Dalam tuntutan Tita bahwa tambunan kotor ini sama dengan “yg membelokkan kontinu” dalam daratan nusantara, terbentuk banyolan yg dilebih-lebihkan maka satiris; tetapi kilah itu konstan pasti. Karena daratan ini terbuat semenjak plastik, itu sayup tiada larat dihancurkan. Di melintas pelakon penjelmaan kecakapan, sindiran, intrusi, maka penggeli silam dipersenjatai mendapatkan menghunus kepedulian atas isu-isu gerendel yg dihadapi mayapada masa ini; maka menghunjam 1001st Pulau, Tita membonceng resep ini mendapatkan menjuju tema keberlanjutan yg merangkum daerah, mengabadikan atas kecakapan tontonan maka sistem bercerita mendapatkan menuturkan narasi semenjak pura yg karam maka centang-perenang.

Banjir maka penggusuran sayap dalam Jakarta

Orang-orang, ketatanegaraan maka perencanaan bersomplokan dalam mukim kotor pesisir bengawan Kampung Pulo.


Mendampingi instalasi arca kotor sama dengan antisipasi kecakapan film yg merekam penyusunan “daratan” ini: sistem rangkap minggu, partisipatif, kedap penjelmaan, dalam mana artis main plus nelayan domestik semenjak Muara Angke mendapatkan menggabungkan kotor semenjak Teluk Jakarta. Di kedua saluran, 1001st Pulau menjelajahi plus gaya yg betul berpendidikan maka liris persilangan renggangan penyakit penyakit konteks, pencemaran plastik, maka naiknya parasan bahar yg endemik dalam segenap mayapada. Tetapi terbentuk jua kerangka domestik atas penjelmaan kecakapan ini, terpandang semenjak kesibukan yg tiada sempat finis—maka paham sesak situasi, kandas—merakit mengikis pesisir maka bengawan Jakarta kali berlebihan sesak kotor. Tahun lewat, pembatasan poket plastik seluruhnya mengenakan diperkenalkan dalam Jakarta mendapatkan supermarket, minimarket, maka rekan pangan konservatif. Ada jua perbalahan yg masih berlantas sekeliling ajuan “Tembok Laut Garuda Besar” yg direncanakan. Dan, definit doang, urgen jua mendapatkan mengenang kedudukan Jakarta demi pura yg membelokkan segera karam dalam bintang beredar ini; gelogok substansial lawan arah pencaharian sesak konsorsium tepi laut maka perkotaan.

Melalui bermacam-macam sistem kehidupan, intrusi, pemilihan memesona, maka perakitan beradat film maupun penjelmaan kecakapan ukir, Tita menyelusuri runut getah perca artis Indonesia tingkatan sebelumnya: “turun ke lembah bukit” ke tempat-tempat persabungan maka kontestasi; membonceng kecakapan mendapatkan merekam maka selaku penonton, maka mendapatkan menguatkan kemasygulan konsorsium yg terpinggirkan. Kemudian paham film, Tita terkatung-katung dalam kepada nirwana daratan yg sebu bunga-bunga maka takjub, maka darat kotor selaku griya barunya. Dari posisinya demi awak pura megalopolis yg melimpah ruah maka ketat ini, Tita menyampaikan deskripsi yg bertara renggangan yg gemilang maka yg tebal hati; menganjurkan ramalan seragam pengkhayal, namun plus sejemang jua ketika haluan dystopian yg tegas.

1001st Island – Pulau Paling Berkelanjutan dalam Nusantara (2015)
Video got esa: 14:11 menit, bunga-bunga, bunyi.
Produced for Jakarta Biennale (Jakarta, Indonesia), 2015.
Gambar eigendom pelakon, mengarungi YouTube.

Dalam deskripsi yg tersingkap semenjak penjelmaan kecakapan ini, terbentuk segi performatif maka destruktif yg tegas yg digunakan artis mendapatkan menganalisis maka menghadang ide bab nirwana ciptaan yg kerap dicirikan sama Indonesia. Dalam film tertera, si artis merendam dirinya paham panorama kemasyarakatan maka jagat, maka, plus menunaikan itu, menghunus kepedulian atas realitas terkubur yg tersisip dalam lembah bukit pantulan parasan pesisir, wadah pakansi berlebihan binar baskara. Di lembah bukit osean daratan biru yg terpandang atas sirkuler mengkilap sama dengan tandingan kotor plastik yg terkatung-katung semakin tersisih semenjak dot asalnya: Jakarta.

Saat Tita suntuk ke bahar plus lanting kotor plastiknya, “daratan” miliknya selaku embel-embel terbaru mendapatkan Kepulauan Seribu ikatan daratan yg terwalak dalam lor Jakarta. Wilayah yg disebut sama turis demi “Kepulauan Seribu” ini patut sahaja terdiri semenjak 110 daratan. Dengan menerangkan -nya daratan demi ‘1001st‘, Tita menggulungkan bayang-bayang ikatan daratan ini; mengintervensi maka merebahkan ramalan, penilaian, maka ambisi yg “abnormal” maka “romantis” plus menurunkan menjelang spektator sebuah daratan yg satir, mengejek, maka destruktif. Rakit Tita kelihatannya yg 111ini daratan, namun, plus mencirikannya demi 1001st, yg dilebih-lebihkan maka hiperbola melelapkan ramalan panorama yg sedang tertinggal, maka menghadang spektator mendapatkan melihatnya semenjak kacamata yg bersalah.

1001st Island: The Most Sustainable Island in the Archipelago (2015) Video got esa: 14:11 menit, bunga-bunga, bunyi. Diproduksi mendapatkan Jakarta Biennale (Jakarta, Indonesia), 2015. Gambar eigendom pelakon, melalui YouTube

Berdiri dalam kepada daratan kotor perlu, Tita menyuluhi tertular unik kontradiksi berpangkal semenjak ikatan daratan ini: mendapatkan menjelang nirwana yg seringkali individu, permai, maka (mana tahu) sejati ini, Anda perlu lebih-lebih purba melintasi osean kotor yg ditemukan dalam Teluk Jakarta. Ini tersisih semenjak penyakit yg sahaja berjalan dalam Jakarta maka and Kepulauan Seribu; itu sama dengan penyakit yg jua termanifestasi dalam apa pun yg disebut “daratan nirwana” penaka Bali. Meskipun sesak semenjak sumur penyakit ini kuasa ditemukan dalam wisata, situasi itu jua—penaka yg suah ditunjukkan sama si artis—penyakit manajemen kotor yg makin lapang yg merangkum sesak wadah dalam daerah ini. Daun mauz, misalnya, sempat digunakan demi bungkusan global mendapatkan pangan dalam Indonesia: bibit yg larat dibuang dalam perantau dalam jalan bebas hambatan setahap, maka betul lun-tur terburai. Karena plastik suah menggantikannya demi sistem sampul yg disukai, bagaimanapun, buah jagat suah meroket; demi disposisi Tita paham notifikasi Kelembaban Mutlak kendatipun mayoritas produksi pangan saat ini membonceng slof plastik, saya sedang memegang kegaliban yg kembar [in discarding wrappers]”.

Dalam melangsungkan daratan kotor ini maka berangkulan plus komune nelayan, Tita’s 1001st Pulau menaikkan silang pendapat yg makin lapang bab isu-isu garis besar manajemen kotor maka plastik, dengan penilaian daratan demi tertular unik “opsi ragil” paham menempuh alterasi jagat maka ilmu lingkungan yg boyas. Meskipun perintah jagat semenjak film tertera bertalun-talun plus saksi garis besar, Tita berujar mengarungi penjelmaan kecakapan ini semenjak kacamata bersalah semenjak seorang awak Jakarta yg menempeleng penyakit domestik: terendong plus komune semenjak kacamata maka wadah yg kerap diabaikan.

Dari pos ini, Tita membonceng kecakapan demi motor mendapatkan menempuh maka memvisualisasikan status jagat maka kemasyarakatan yg rumpil, maka menyarankan pemecahan—betapapun terkini maka tiada menghunjam akalnya itu. Dia terendong paham kesibukan sabotase, bercerita maka insinuasi mendapatkan menghunus kepedulian atas isu-isu yg dihadapi alam Teluk Jakarta. Jakarta sama dengan “supermarket penyakit”, komentarnya; namun, demi artis domestik, ini jua menjadi “supermarket bisikan”. Dengan intrusi kemasyarakatan yg bekerja demi lawe berma dalam sesak penjelmaan artis, 1001st Pulau mengundang spektator mendapatkan menimang-nimang penyakit kotor plastik semenjak kacamata yg kelihatannya tiada normal maka terkini, namun diperlukan mendapatkan menempuh penyakit yg makin paham (maka seringkali eksistensial) yg dihadapi mukim masa ini.