COVID-19: menginsafi bertambah sebelah semenjak Jakarta

Minggu, 18 Juli 2021

Kakak pembayan aku berkalang tanah kemarin dulu, Sabtu awal.

Beberapa yaum yg kalakian dirinya tercemplung gering. Kami menemukannya lagi melungguh dekat asas dewan beta dekat Jakarta Pusat. Tubuhnya lentur, dirinya enggak dapat berucap, pula dirinya sekadar seperdua insaf. Kami budi dirinya tertimpa stroke. Dia teka glukosuria, sudah aku pantas berangkat ke toko obat kepada memesan pesawat kepada menilai sakaros darahnya. Itu semu semampai.

Aku membawanya ke dewan gering. Di UGD dewan gering, beta ditolak akibat saturasi oksigennya ringkas—energi COVID-19. Saya membawanya ke dewan gering sanad COVID-19, mengenal bahwa mereka sarwa kancap. Kami rujuk ditolak akibat dirinya belum dikonfirmasi tegas, sudah beta menakdirkan kepada membawanya kembali semula.

Seorang sahabat meminjamkan beta kupi O kurang.

Keesokan harinya, beta menyetor makmal preman kepada swab antigen dekat dewan. Positif. Putranya yg berumur 25 warsa serupa tegas. Saya pula suami aku minus.

Malam itu aku mengitarbermanjau menduga ambulans. Tidak berkacak yg tersaji. Di Puskesmas, aku payah ceria pakai kesempatan kali aku menginsafi tiga ambulans diparkir dekat dada. Harapan itu koyak-koyak. Ketika aku turun ke jabatan, aku disambut sama unik pekerja mereka. Semua yg asing memegang COVID-19. Puskesmas berikutnya serupa tidak berkemampuan. Mereka layuh. Kewalahan.

Ketika resistansi ini berlangsung, yg dapat aku lakukan hanyalah berangkat berselindung. Para fungsionaris kebugaran serupa kekurangan kata-kata. Saya sekadar dapat merefleksikan segala apa yg mereka rasakan. Kami sarwa menyadari. Bukannya mereka enggak acuh. Mereka pernah kecapekan, pula pantas memperoleh ketewasan.

Saya serupa berkeliaran petang itu menduga kandungan olak O, pakai bumbung dekat pada motor automatik aku. Saya warisan. Ketika aku mencapai dekat warung, sediaan mereka terkini selalu diisi olak. Saya mengantri dekat papar seorang laki-laki yg menceritakan bahwa dirinya sempat ke dobel puluh bekas asing. Dia lagi menduga kandungan olak kepada anaknya. Tabung oksigennya sekecil milikku. Itu menghabiskan hatiku.

Kami serupa menelepon padat dewan gering. Semua ditolak, maupun enggak ditanggapi. Tapi berjalan-in terlampau berisiko.

Namun, dekat awal yaum, aku menakdirkan beta pantas maco makanangin. Istri aku, Ade, bermukim dekat dewan serentak dobel buah hati beta yg lagi kurang. Dua pegiat administrator kotor menunjang aku pula kemenakan aku memanggul pembayan aku ke batin otomobil yg beta menyelang. Di dewan gering, resistansi semula. Mereka kancap. Mereka menganjurkan dewan gering asing. Saya mempercepatnya—itu ialah pelancongan sepuluh menit.

Pada era beta datang dekat senun, famili pembayan aku pernah berangkat.

Karena dirinya tegas covid, aku mengesahkan izin penuntasan jenazah bertimbal adat Covid.

Aku kembali ke dewan kepada merebut baju ayu iparku. Mereka mengadakan tubuhnya dekat dewan gering kepada pengebumian.

Kami menanti ambulans penguasa. Tapi itu terlampau durasi. Kami menakdirkan kepada mengontrak ambulans dewan gering.

Sepanjang rintis, beta mengatasi pula melanglang pakai setengah ambulans asing.

Rorotan, pemakaman yg terkini dibuka setengah rembulan kalakian, terasa jelas. Itu kancap pakai ekskavator! Mereka berkacak dekat mana-mana, sekaliannya bergiat padat melubangi tebuk. Tanah itu berona abang. Itu ialah benua kasar. Sama sekaligus enggak semacam peristirahatan terakhir yg syahdu. Semua ad hoc, selagi.

Pekerja pakai veste hazmat bersih mengemasi benua, memanggul kotak, menyiapkan benua dekat geladak amat baskara. Beberapa warga setempat lagi menggelitik dekat tangki terhampir. Seorang laki-laki pakai belenceh menghimpunkan kayu palang semenjak rumah tiang, mengecatnya bersih, mencatat label pakai spidol.

Ambulans segera terbit mengakar. Peti beta mengakar ke batin tebuk, pula sebuah ekskavator pantas memuat tebuk itu pakai benua. Tidak durasi belakang hari, tebuk berikutnya, pula yg dekat sebelahnya, serupa terisi.

Ini sekadar penggalan Kristen. Kristen tak sebagian besar. Kami mengatasi penggalan asing yg bertambah aktif.

Kami berpengaruh dekat senun sekadar catur puluh menit. Tetapi batin termin sebentar itu, berkacak ambulans yg tidak tergolong jumlahnya. Ketika beta berkendara rujuk ke dewan beta berlari ke ambulans semula.

Kegilaan.

[Translated from Indonesian by Tintin Wulia]